Minggu, 27 April 2008

Pujangga Malam



Pesta Malam Terakhir
Remang senja ramadhan tak semburkan jingga
Hanya awan hita
m yang melingkar di lengkung sabit
Malam biru meng
hampar.Aku masih terjaga dalam rasa hambar tarowihku.
Burung-burung malam bergayut bercanda di ujung resah akar beringin.
Seperti melukiskan gema malam pesta terakhir di remang serambi masjid.

Pesta usai .Tubuh menghambur malam menjadi putih.

Layar fajar dikembangkan.Adzan menggema .Diri lalai.Menggelar sajadah subuh
seorang diri.Tak seperti biasa .Resah mengepul dari ujung hati yang terbakar .
Ketika ragam umat berkumpul seperti di ngangasnya padang maghsyar.
Ketika keputusan akhir diundangkan .Gurat garis bibir tak pasti berubah bentuk
Kulalap getir sekaligus manis.
Aku seperti lukisan yang lepas dari bingkai. (Borobudur,19 September 2007)




Kembang Kering
Maaf
Bila kembang kering tak mewang
i itu
Pernah menyayat hati
Atau pernah mengusir fajar
Yang penuh dengan cahaya putih
Kemudian terganti pagi yang kelam
Bukan maksud kumbang ini menggodamu
Dengan tarian-tarian huruf getar
Yang pernah membuatmu tak pasti

Menggoreskan warna dalam paras ayumu
Tapi aku hanya
ingin memuntahkan kata
Bahwa aku pernah memiliki rasa itu
Rasa yang begitu menyakitkan karena tak mungkin memiliki
Aku akan pergi bersama angin kering Borobudur
yang akan menyisirku enta
h kemana. (Borobudur,19 September 2007)



Tidak ada komentar: